Pengetahuan | Kisah Penyintas Kanker Payudara: Menjadi Ibu Tetap Mungkin



Pengetahuan | Kisah Penyintas Kanker Payudara: Menjadi Ibu Tetap Mungkin


Mei 30, 2024—Dua belas tahun lalu, Maggie Louks yang berusia 28 tahun didiagnosis kanker payudara. Ia tidak hanya menghadapi ancaman kanker, tetapi juga kekhawatiran tentang dampak penanganan terhadap kesuburannya di masa depan. Kini 40, setelah bertahun-tahun berupaya dan mendapat dukungan medis, Louks telah mengatasi kanker dan memiliki tiga anak sehat.


Materi kelopak_ibu dan bayi_193281197.png


Saat Louks didiagnosis, dokter menganjurkan kemoterapi intensif untuk meminimalkan risiko kekambuhan. Ia memilih preservasi fertilitas dan mulai mencoba hamil setelah penanganan. Walaupun transfer embrio pertamanya gagal, ia memperoleh sel telur baru melalui fertilisasi in vitro (IVF) dan melahirkan anak perempuan kembar pada 2020. Louks kemudian hamil secara alami dan melahirkan anak ketiga.


Sebuah studi terbaru merupakan yang pertama mengikuti penyintas muda kanker payudara selama lebih dari 10 tahun setelah penanganan. Studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar perempuan yang mencoba hamil akhirnya berhasil hamil dan melahirkan. Studi ini dipimpin oleh Ann Partridge, MD, MPH, wakil ketua onkologi medis di Dana-Farber Cancer Institute dan Brigham and Women's Hospital.


Dalam studi tersebut, 73% perempuan hamil setelah penanganan dan 65% melahirkan. Studi ini juga menemukan bahwa sebagian besar pasien dapat hamil setelah penanganan, terlepas dari stadium kanker, paparan kemoterapi, atau tumor dengan reseptor hormon positif, dan penanganan tidak secara signifikan mengurangi peluang kehamilan mereka.


Dr. Partridge mencatat bahwa kehamilan tidak sesuai bagi setiap penyintas kanker payudara. Ini merupakan keputusan yang sangat pribadi berdasarkan diskusi dengan keluarga dan dokter serta pertimbangan risiko kekambuhan di masa depan.


Bagi perempuan yang ingin mencoba hamil, onkofertilitas dapat memberikan dukungan penting. Bidang yang berkembang ini memadukan perawatan kanker dan kesehatan reproduksi untuk membantu pasien memaksimalkan preservasi fertilitas. Penelitian menunjukkan bahwa banyak perempuan tidak mendapat informasi tentang preservasi fertilitas sebelum penanganan kanker, sehingga konsultasi dini dengan spesialis fertilitas sangat penting.


Louks menekankan bahwa memahami dan membahas kesuburan sejak dini sangat penting bagi setiap pasien muda kanker payudara. “Saran saya, bahas kesuburan dengan tim onkologi Anda sejak awal, pahami semua pilihan Anda, dan pertimbangkan bagaimana pilihan tersebut dapat memengaruhi penanganan Anda.”


Kisahnya menunjukkan bahwa hasil positif mungkin terjadi bagi banyak pasien kanker payudara yang masih berharap menjadi ibu.


Sumber artikel:

Dikumpulkan secara daring

Diterbitkan 2024-08-18
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial sebelum diterbitkan.
Konten ini hanya untuk informasi dan bukan nasihat medis. Konsultasikan dengan tenaga medis berizin. Panduan konten dan kebijakan editorial

Anda Mungkin Juga Menyukai

Kami Akan Segera Menghubungi Anda

Masukkan data Anda dan kami akan segera menghubungi Anda.
  • Tes Genetik Prapenempelan dan IVF
    IVF dengan Sel Telur atau Sperma Donor
    Informasi Reproduksi Pihak Ketiga (Tunduk pada Hukum Setempat)
    Lainnya