Berita | Stres Sebelum Kehamilan Dapat Memengaruhi Kadar Glukosa Darah Selama Kehamilan
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa stres psikologis sebelum kehamilan mungkin berkaitan dengan kadar glukosa darah yang lebih tinggi selama kehamilan. Temuan ini menawarkan sudut pandang baru tentang bagaimana stres dapat memengaruhi hasil kehamilan, terutama pada perempuan yang mengalami masalah kesuburan.
Penelitian ini dilakukan oleh tim Environment and Reproductive Health (EARTH) Study di Massachusetts General Hospital Fertility Center dan dipublikasikan dalam Journal of the Endocrine Society pada 9 2024.
Latar Belakang
Tingkat stres telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada perempuan. Stres sangat umum terjadi pada perempuan yang menjalani perawatan kesuburan. Stres bukan hanya tantangan psikologis; dengan memengaruhi metabolisme glukosa, stres juga dapat memengaruhi hasil kehamilan. Selama periode penting sebelum konsepsi, faktor lingkungan dan gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, polusi, dan pola makan yang buruk dapat memengaruhi kesehatan kehamilan serta berkontribusi pada kondisi seperti preeklamsia.
Metode dan Hasil
Penelitian ini menelaah hubungan antara stres yang dirasakan perempuan sebelum kehamilan dan glukosa darah selama kehamilan. Semua peserta adalah pasien di Massachusetts General Hospital Fertility Center. Mereka mengisi Perceived Stress Scale (PSS-4) yang terdiri dari empat pertanyaan sebelum kehamilan dan menjalani pemeriksaan glukosa pada tahap lanjut kehamilan.
Perempuan dengan stres psikologis yang lebih tinggi memiliki glukosa darah yang lebih tinggi selama kehamilan. Kadar glukosa terus meningkat seiring tingkat stres setelah memperhitungkan usia, indeks massa tubuh (BMI), ras, merokok, aktivitas fisik, pendidikan, paritas, dan metode konsepsi. Penelitian ini juga menemukan bahwa perempuan dengan pendidikan serta pendapatan lebih tinggi, dan mereka yang hamil melalui inseminasi intrauterin (IUI), lebih mungkin mengalami peningkatan glukosa darah selama kehamilan.
Makna
Penelitian ini menunjukkan hubungan erat antara stres tinggi sebelum kehamilan dan peningkatan glukosa darah selama kehamilan, khususnya pada perempuan berpendidikan tinggi dan mereka yang hamil melalui IUI. Hasil ini semakin menegaskan pentingnya pengelolaan stres sebelum konsepsi bagi kesehatan kardiovaskular selama kehamilan. Penelitian mendatang sebaiknya melibatkan lebih banyak perempuan dari komunitas, kelompok ras, dan latar belakang sosial ekonomi yang beragam agar temuan dapat diterapkan secara luas.
Sumber berita:
Dikumpulkan dari internet
Diterbitkan 2024-08-21
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial sebelum diterbitkan.
Berita | Stres Sebelum Kehamilan Dapat Memengaruhi Kadar Glukosa Darah Selama Kehamilan
Berita | Stres Sebelum Kehamilan Dapat Memengaruhi Kadar Glukosa Darah Selama Kehamilan
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa stres psikologis sebelum kehamilan mungkin berkaitan dengan kadar glukosa darah yang lebih tinggi selama kehamilan. Temuan ini menawarkan sudut pandang baru tentang bagaimana stres dapat memengaruhi hasil kehamilan, terutama pada perempuan yang mengalami masalah kesuburan.
Penelitian ini dilakukan oleh tim Environment and Reproductive Health (EARTH) Study di Massachusetts General Hospital Fertility Center dan dipublikasikan dalam Journal of the Endocrine Society pada 9 2024.
Latar Belakang
Tingkat stres telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada perempuan. Stres sangat umum terjadi pada perempuan yang menjalani perawatan kesuburan. Stres bukan hanya tantangan psikologis; dengan memengaruhi metabolisme glukosa, stres juga dapat memengaruhi hasil kehamilan. Selama periode penting sebelum konsepsi, faktor lingkungan dan gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, polusi, dan pola makan yang buruk dapat memengaruhi kesehatan kehamilan serta berkontribusi pada kondisi seperti preeklamsia.
Metode dan Hasil
Penelitian ini menelaah hubungan antara stres yang dirasakan perempuan sebelum kehamilan dan glukosa darah selama kehamilan. Semua peserta adalah pasien di Massachusetts General Hospital Fertility Center. Mereka mengisi Perceived Stress Scale (PSS-4) yang terdiri dari empat pertanyaan sebelum kehamilan dan menjalani pemeriksaan glukosa pada tahap lanjut kehamilan.
Perempuan dengan stres psikologis yang lebih tinggi memiliki glukosa darah yang lebih tinggi selama kehamilan. Kadar glukosa terus meningkat seiring tingkat stres setelah memperhitungkan usia, indeks massa tubuh (BMI), ras, merokok, aktivitas fisik, pendidikan, paritas, dan metode konsepsi. Penelitian ini juga menemukan bahwa perempuan dengan pendidikan serta pendapatan lebih tinggi, dan mereka yang hamil melalui inseminasi intrauterin (IUI), lebih mungkin mengalami peningkatan glukosa darah selama kehamilan.
Makna
Penelitian ini menunjukkan hubungan erat antara stres tinggi sebelum kehamilan dan peningkatan glukosa darah selama kehamilan, khususnya pada perempuan berpendidikan tinggi dan mereka yang hamil melalui IUI. Hasil ini semakin menegaskan pentingnya pengelolaan stres sebelum konsepsi bagi kesehatan kardiovaskular selama kehamilan. Penelitian mendatang sebaiknya melibatkan lebih banyak perempuan dari komunitas, kelompok ras, dan latar belakang sosial ekonomi yang beragam agar temuan dapat diterapkan secara luas.
Sumber berita:
Dikumpulkan dari internet