Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal *Human Reproduction* menemukan bahwa paparan materi partikulat halus (PM2.5) dari kebakaran hutan dapat secara signifikan memengaruhi angka kelahiran hidup pada fertilisasi in vitro (IVF). Tim peneliti menganalisis data dari ribuan siklus IVF di Amerika Serikat dan menemukan bahwa perempuan yang menjalani transfer embrio pada periode puncak asap kebakaran hutan memiliki angka kelahiran hidup sekitar 38% lebih rendah daripada kelompok dengan paparan rendah. Temuan ini memberikan rujukan risiko lingkungan penting bagi pasangan yang merencanakan reproduksi berbantu.
Para peneliti menunjukkan bahwa partikel PM2.5 dalam asap kebakaran hutan dapat menembus paru-paru dan memasuki aliran darah, yang berpotensi mengganggu reseptivitas endometrium dan perkembangan embrio. Meskipun polusi udara secara umum diketahui memengaruhi kesuburan, ini adalah studi kuantitatif pertama yang secara khusus meneliti dampak asap kebakaran hutan terhadap hasil IVF. Para ahli menyarankan agar orang yang tinggal di daerah rawan kebakaran hutan mempertimbangkan menunda transfer embrio atau pengambilan sel telur saat Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai tingkat "tidak sehat".
Bagi pembaca yang sedang menjalani perawatan IVF, studi ini menawarkan panduan praktis: risiko paparan dapat dikurangi dengan memantau AQI setempat, menggunakan pemurni udara, dan membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika jadwal perawatan memungkinkan, mendiskusikan penundaan waktu transfer dengan dokter reproduksi untuk menghindari musim kebakaran hutan dapat menjadi salah satu strategi guna meningkatkan tingkat keberhasilan. Namun, studi ini juga menekankan bahwa kondisi setiap individu sangat beragam, dan rencana terbaik perlu dievaluasi bersama tim medis.
Sumber: People.com. Artikel ini merupakan laporan terjemahan untuk referensi informasi umum.
Diterbitkan 2026-07-27
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial sebelum diterbitkan.
Berita | Studi: Asap Kebakaran Hutan Dapat Memengaruhi Tingkat Keberhasilan IVF, Menyarankan Penundaan Perawatan di Area Berisiko Tinggi
Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal *Human Reproduction* menemukan bahwa paparan materi partikulat halus (PM2.5) dari kebakaran hutan dapat secara signifikan memengaruhi angka kelahiran hidup pada fertilisasi in vitro (IVF). Tim peneliti menganalisis data dari ribuan siklus IVF di Amerika Serikat dan menemukan bahwa perempuan yang menjalani transfer embrio pada periode puncak asap kebakaran hutan memiliki angka kelahiran hidup sekitar 38% lebih rendah daripada kelompok dengan paparan rendah. Temuan ini memberikan rujukan risiko lingkungan penting bagi pasangan yang merencanakan reproduksi berbantu.
Para peneliti menunjukkan bahwa partikel PM2.5 dalam asap kebakaran hutan dapat menembus paru-paru dan memasuki aliran darah, yang berpotensi mengganggu reseptivitas endometrium dan perkembangan embrio. Meskipun polusi udara secara umum diketahui memengaruhi kesuburan, ini adalah studi kuantitatif pertama yang secara khusus meneliti dampak asap kebakaran hutan terhadap hasil IVF. Para ahli menyarankan agar orang yang tinggal di daerah rawan kebakaran hutan mempertimbangkan menunda transfer embrio atau pengambilan sel telur saat Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai tingkat "tidak sehat".
Bagi pembaca yang sedang menjalani perawatan IVF, studi ini menawarkan panduan praktis: risiko paparan dapat dikurangi dengan memantau AQI setempat, menggunakan pemurni udara, dan membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika jadwal perawatan memungkinkan, mendiskusikan penundaan waktu transfer dengan dokter reproduksi untuk menghindari musim kebakaran hutan dapat menjadi salah satu strategi guna meningkatkan tingkat keberhasilan. Namun, studi ini juga menekankan bahwa kondisi setiap individu sangat beragam, dan rencana terbaik perlu dievaluasi bersama tim medis.
Sumber: People.com. Artikel ini merupakan laporan terjemahan untuk referensi informasi umum.