Berita | Dampak Jangka Panjang Pembatasan Waktu Makan terhadap Kualitas Sperma dan Sel Telur
Studi University of East Anglia (UEA) menunjukkan bahwa pembatasan waktu makan secara intermiten dapat berdampak negatif pada kesuburan. Dampaknya berbeda antara ikan zebra jantan dan betina, dan sebagian tetap berlangsung setelah pola makan normal dilanjutkan.
Latar Belakang dan Temuan
Pembatasan waktu makan membatasi asupan makanan pada jam tertentu dan populer karena potensi manfaat berat badan serta kesehatan. Peneliti mencatat bahwa stres akibat kekurangan makanan juga dapat memengaruhi kualitas sel reproduksi.
Menggunakan ikan zebra (Danio rerio), peneliti menilai pemeliharaan tubuh dan kualitas gamet selama puasa serta setelah pola makan normal dilanjutkan. Mereka menemukan:
Betina menghasilkan lebih banyak telur setelah pola makan normal dilanjutkan, tetapi kualitas telur dan keturunannya menurun.
Kualitas sperma jantan juga terpengaruh secara negatif.
Prof Alexei Maklakov mengatakan bahwa dampak pada produksi dan kualitas sperma serta sel telur dapat bertahan setelah pola makan normal dilanjutkan.
Implikasi untuk Penelitian Mendatang
Dr Edward Ivimey-Cook menjelaskan bahwa organisme mengalihkan sumber daya ke pemeliharaan tubuh setelah pola makan dilanjutkan, dengan mengorbankan kualitas gamet.
Penelitian lanjutan perlu menentukan berapa lama kualitas sperma dan sel telur pulih setelah puasa.
Kolaborasi dan Pendanaan
Studi ini melibatkan UEA dan Centre for Environment, Fisheries and Aquaculture Science (Cefas), dengan pendanaan dari ERC, BBSRC, dan NERC.
Artikel berjudul “Peningkatan investasi somatik pada ikan zebra selama puasa memengaruhi kualitas garis germinal” diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B.
Sumber:
Dihimpun dari internet
Penulis LinkedIVF TeamDiterbitkan 2024-12-27
Artikel ini menggunakan bantuan AI; LinkedIVF belum mencatat tinjauan editorial untuk artikel ini. Ini bukan nasihat medis.
Berita | Dampak Jangka Panjang Pembatasan Waktu Makan terhadap Kualitas Sperma dan Sel Telur
Berita | Dampak Jangka Panjang Pembatasan Waktu Makan terhadap Kualitas Sperma dan Sel Telur
Studi University of East Anglia (UEA) menunjukkan bahwa pembatasan waktu makan secara intermiten dapat berdampak negatif pada kesuburan. Dampaknya berbeda antara ikan zebra jantan dan betina, dan sebagian tetap berlangsung setelah pola makan normal dilanjutkan.
Latar Belakang dan Temuan
Pembatasan waktu makan membatasi asupan makanan pada jam tertentu dan populer karena potensi manfaat berat badan serta kesehatan. Peneliti mencatat bahwa stres akibat kekurangan makanan juga dapat memengaruhi kualitas sel reproduksi.
Menggunakan ikan zebra (Danio rerio), peneliti menilai pemeliharaan tubuh dan kualitas gamet selama puasa serta setelah pola makan normal dilanjutkan. Mereka menemukan:
Betina menghasilkan lebih banyak telur setelah pola makan normal dilanjutkan, tetapi kualitas telur dan keturunannya menurun.
Kualitas sperma jantan juga terpengaruh secara negatif.
Prof Alexei Maklakov mengatakan bahwa dampak pada produksi dan kualitas sperma serta sel telur dapat bertahan setelah pola makan normal dilanjutkan.
Implikasi untuk Penelitian Mendatang
Dr Edward Ivimey-Cook menjelaskan bahwa organisme mengalihkan sumber daya ke pemeliharaan tubuh setelah pola makan dilanjutkan, dengan mengorbankan kualitas gamet.
Penelitian lanjutan perlu menentukan berapa lama kualitas sperma dan sel telur pulih setelah puasa.
Kolaborasi dan Pendanaan
Studi ini melibatkan UEA dan Centre for Environment, Fisheries and Aquaculture Science (Cefas), dengan pendanaan dari ERC, BBSRC, dan NERC.
Artikel berjudul “Peningkatan investasi somatik pada ikan zebra selama puasa memengaruhi kualitas garis germinal” diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B.
Sumber:
Dihimpun dari internet