Berita | BMI Tinggi dan Merokok Berkaitan dengan Waktu untuk Hamil yang Lebih Lama
Sebuah studi BMC Medicine menilai dampak gaya hidup terhadap kesuburan dan hasil reproduksi. BMI tinggi dan merokok dikaitkan dengan waktu untuk hamil yang lebih lama serta usia lebih muda saat kelahiran pertama.
Latar Belakang
Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, asupan kafeina tinggi, dan obesitas berkaitan dengan infertilitas. Merokok dan alkohol menurunkan kualitas semen serta meningkatkan risiko keguguran; obesitas memperpanjang waktu untuk hamil. Saran berdasarkan pengamatan dapat dipengaruhi oleh pola makan, tidur, dan aktivitas.
Studi ini menggunakan randomisasi Mendel (MR) untuk menelaah kemungkinan hubungan sebab-akibat.
Rancangan Studi
Data berasal dari 84,705 peserta dalam Norwegian Mother, Father and Child Cohort Study (MoBa), termasuk 68,002 perempuan. Model menilai hubungan merokok, alkohol, kafeina, dan BMI dengan waktu untuk hamil, terapi infertilitas, keguguran, usia saat kelahiran pertama, dan jumlah anak.
Analisis mengendalikan tahun kelahiran, pendidikan, dan ciri ADHD serta menggunakan data UK Biobank untuk validasi MR multivariat.
Hasil
BMI dan kesuburan
BMI yang lebih tinggi dikaitkan dengan waktu untuk hamil yang lebih lama, lebih banyak terapi infertilitas dan keguguran, serta usia lebih muda saat kelahiran pertama.
Merokok
Merokok dikaitkan dengan waktu untuk hamil yang lebih lama pada perempuan, jumlah anak yang lebih sedikit, dan usia lebih muda saat kelahiran pertama.
Alkohol dan kafeina
Konsumsi alkohol yang sering dikaitkan dengan jumlah anak yang lebih sedikit dan kelahiran pertama yang lebih lambat, tetapi terapi infertilitas yang lebih sedikit. Asupan kafeina tinggi dikaitkan dengan usia ayah yang lebih muda saat kelahiran pertama.
Temuan lain
Kelahiran pertama pada usia lebih lanjut dikaitkan dengan jumlah anak yang lebih sedikit, waktu untuk hamil yang lebih lama, keguguran, dan terapi infertilitas.
Signifikansi
Dengan menggunakan beberapa metode statistik, studi ini menyoroti berbagai kaitan genetik dan gaya hidup. Berhenti merokok dan pengelolaan berat badan dapat mendukung kesuburan.
Temuan ini dapat menjadi dasar panduan kesuburan dan menunjukkan potensi peran pendidikan serta ciri ADHD.
Sumber:
Dihimpun dari internet
Diterbitkan 2024-12-28
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial sebelum diterbitkan.
Berita | BMI Tinggi dan Merokok Sama-sama Terkait dengan Waktu hingga Hamil yang Lebih Lama
Berita | BMI Tinggi dan Merokok Berkaitan dengan Waktu untuk Hamil yang Lebih Lama
Sebuah studi BMC Medicine menilai dampak gaya hidup terhadap kesuburan dan hasil reproduksi. BMI tinggi dan merokok dikaitkan dengan waktu untuk hamil yang lebih lama serta usia lebih muda saat kelahiran pertama.
Latar Belakang
Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, asupan kafeina tinggi, dan obesitas berkaitan dengan infertilitas. Merokok dan alkohol menurunkan kualitas semen serta meningkatkan risiko keguguran; obesitas memperpanjang waktu untuk hamil. Saran berdasarkan pengamatan dapat dipengaruhi oleh pola makan, tidur, dan aktivitas.
Studi ini menggunakan randomisasi Mendel (MR) untuk menelaah kemungkinan hubungan sebab-akibat.
Rancangan Studi
Data berasal dari 84,705 peserta dalam Norwegian Mother, Father and Child Cohort Study (MoBa), termasuk 68,002 perempuan. Model menilai hubungan merokok, alkohol, kafeina, dan BMI dengan waktu untuk hamil, terapi infertilitas, keguguran, usia saat kelahiran pertama, dan jumlah anak.
Analisis mengendalikan tahun kelahiran, pendidikan, dan ciri ADHD serta menggunakan data UK Biobank untuk validasi MR multivariat.
Hasil
BMI dan kesuburan
BMI yang lebih tinggi dikaitkan dengan waktu untuk hamil yang lebih lama, lebih banyak terapi infertilitas dan keguguran, serta usia lebih muda saat kelahiran pertama.
Merokok
Merokok dikaitkan dengan waktu untuk hamil yang lebih lama pada perempuan, jumlah anak yang lebih sedikit, dan usia lebih muda saat kelahiran pertama.
Alkohol dan kafeina
Konsumsi alkohol yang sering dikaitkan dengan jumlah anak yang lebih sedikit dan kelahiran pertama yang lebih lambat, tetapi terapi infertilitas yang lebih sedikit. Asupan kafeina tinggi dikaitkan dengan usia ayah yang lebih muda saat kelahiran pertama.
Temuan lain
Kelahiran pertama pada usia lebih lanjut dikaitkan dengan jumlah anak yang lebih sedikit, waktu untuk hamil yang lebih lama, keguguran, dan terapi infertilitas.
Signifikansi
Dengan menggunakan beberapa metode statistik, studi ini menyoroti berbagai kaitan genetik dan gaya hidup. Berhenti merokok dan pengelolaan berat badan dapat mendukung kesuburan.
Temuan ini dapat menjadi dasar panduan kesuburan dan menunjukkan potensi peran pendidikan serta ciri ADHD.
Sumber:
Dihimpun dari internet