Berita | Sel Sperma Cetak-3D Dapat Mengubah Perawatan Infertilitas Pria



Berita | Sel Sperma Cetak-3D Dapat Mengubah Perawatan Infertilitas Pria


Di sebuah laboratorium di University of British Columbia (UBC) di Kanada, penelitian yang tampak seperti fiksi ilmiah perlahan mendekati kenyataan. Dr. Ryan Flannigan, profesor madya ilmu urologi dan spesialis kedokteran reproduksi pria, beserta timnya berupaya menggunakan teknologi cetak-3D untuk menciptakan sel sperma. Hal ini dapat menawarkan kemungkinan yang belum pernah ada sebelumnya bagi pria yang saat ini tidak memiliki harapan untuk menjadi orang tua biologis.


“Kami menantang praktik medis yang sudah mapan,” kata Dr. Flannigan. “Setiap hari saya menemui pasien dengan azoospermia nonobstruktif (NOA), dan banyak di antaranya tidak memiliki pilihan perawatan yang tersedia. Hal ini mendorong kami untuk memikirkan kembali masalah tersebut secara mendasar dan mencari terobosan.”


Aset Petal_Tampilan dekat printer 3D modern yang membuat figur; pencetakan tiga dimensi otomatis_174972713.jpg


Infertilitas Pria: Separuh Masalah yang Terabaikan

Sekitar 15% pasangan usia reproduktif di seluruh dunia mengalami kesulitan untuk hamil, dan faktor pria menyumbang lebih dari setengah kasus. Dalam salah satu bentuk infertilitas pria yang paling berat, azoospermia nonobstruktif (NOA), testis hampir tidak menghasilkan sperma.


Bahkan ekstraksi sperma testis dengan mikrodiseksi (mTESE) hanya berhasil pada sekitar setengah kasus. “Keberhasilan bergantung pada ditemukannya area yang sangat kecil dan mampu menghasilkan sperma di antara miliaran sel di testis,” kata Dr. Flannigan. “Sebagian pria mungkin benar-benar tidak memiliki sperma sama sekali, jadi kami perlu menciptakan teknologi yang dapat memberi pasien ini kemungkinan untuk menjadi orang tua biologis.”


Mencetak Sel Testis dengan 3D untuk Membangun Pabrik Sperma di Laboratorium

Tim peneliti menggunakan bioprinting 3D untuk merekonstruksi arsitektur seluler jaringan testis manusia. Mereka tidak hanya mencetak sel, tetapi juga mikro lingkungan kompleks yang meniru tubulus seminiferus, tempat sperma berkembang.


“Produksi sperma bukan proses satu sel. Ini adalah proses kompleks yang melibatkan kontak dan sinyal di antara lebih dari 20 jenis sel,” jelas Dr. Flannigan. “Kami tidak sekadar menumbuhkan sel; kami menciptakan sebuah lingkungan.”


Tim tersebut mengembangkan model cetak-3D yang sangat biomimetik untuk mendukung sel punca testis manusia. Dengan mengatur faktor pertumbuhan dan zat gizi, mereka berupaya menginduksi sel-sel ini untuk berdiferensiasi menjadi sperma matang.


Kolaborasi Penelitian Lintas Disiplin: Mengubah Fiksi Ilmiah Menjadi Kenyataan

“Penelitian ini tidak dapat maju tanpa kolaborasi lintas disiplin,” tegas Dr. Flannigan. Timnya mencakup biologi komputasional, pemodelan matematika, kedokteran reproduksi, rekayasa material, dan bidang lainnya.


Peneliti UBC Dr. Faraz Hach dan Dr. Geoffrey Schiebinger membantu menganalisis data sekuensing sel tunggal dan mengidentifikasi jalur ekspresi gen pada berbagai tahap diferensiasi. “Kami perlu memahami sinyal apa yang dibutuhkan pada setiap tahap untuk membimbing sel punca selangkah demi selangkah menjadi sperma.”


Tim ini juga bekerja sama dengan Dr. Stephanie Willerth dari University of Victoria untuk mengembangkan bioink yang meningkatkan presisi pencetakan dan kompatibilitas seluler. “Bioink harus melakukan lebih dari sekadar mencetak; bioink harus mendukung pertumbuhan sel, pensinyalan, dan perkembangan struktural.”


Kedokteran Presisi: Perawatan Infertilitas Masa Depan Tidak Akan Seragam

Dr. Flannigan mengatakan, “Fisiologi molekuler setiap pasien itu unik. Karena itu, perawatan infertilitas masa depan harus dipersonalisasi, bukan seragam.”


Penelitian tim menunjukkan bahwa pada sebagian pasien azoospermia, masalahnya terletak pada sel pendukung yang tidak berfungsi, bukan pada sel punca itu sendiri. “Jika kami dapat memperbaiki sel pendukung tersebut atau memberikan sinyal yang tepat, kami mungkin dapat mengaktifkan sel yang sebelumnya tidak dapat menghasilkan sperma.”


Oleh karena itu, perawatan di masa depan tidak hanya dapat meregenerasi sperma, tetapi juga disesuaikan dengan kondisi setiap pasien, sehingga kedokteran presisi dapat diterapkan.


Penggunaan Klinis Masih Jauh, tetapi Kemajuan Memberikan Harapan

Teknologi ini masih berada pada tahap eksperimental awal dan masih jauh dari penggunaan dalam perawatan manusia. Dr. Flannigan mengakui bahwa diperlukan pendanaan lebih lanjut, studi keamanan hayati yang lebih kompleks, serta peninjauan etika dan regulasi.


“Namun, kami memiliki tujuan yang jelas: agar teknologi ini kelak membantu pasien yang saat ini tidak memiliki pilihan dalam dunia medis.”


Dalam prosesnya, tim akan terus mengungkap mekanisme molekuler di balik infertilitas pria dan membuka jalur baru untuk penelitian.


Sumber berita:

Dihimpun dari internet

Diterbitkan 2025-06-30
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial sebelum diterbitkan.
Konten ini hanya untuk informasi dan bukan nasihat medis. Konsultasikan dengan tenaga medis berizin. Panduan konten dan kebijakan editorial

Anda Mungkin Juga Menyukai

Kami Akan Segera Menghubungi Anda

Masukkan data Anda dan kami akan segera menghubungi Anda.
  • Tes Genetik Prapenempelan dan IVF
    IVF dengan Sel Telur atau Sperma Donor
    Informasi Reproduksi Pihak Ketiga (Tunduk pada Hukum Setempat)
    Lainnya