Panduan | Tren Baru Perencanaan Keluarga: Menyeimbangkan Karier dan Pengasuhan Anak
Seiring perkembangan masyarakat modern, lebih banyak perempuan menunda persalinan untuk mengejar karier atau menikah di usia lebih tua. Namun, keputusan ini dapat membawa tantangan yang tidak terduga. Kisah Jeanne Meyers adalah contoh yang umum.
Ketika Jeanne menikah pada usia 30-an, ia menunda memiliki anak karena ia dan suaminya sama-sama sukses dalam karier. Mereka berpikir dapat menunggu beberapa tahun sebelum membangun keluarga. Namun, ketika mereka memutuskan untuk memiliki anak pada usia 35, kehamilan ternyata sulit dicapai. Setelah berbulan-bulan mengalami kekecewaan, mereka berkonsultasi dengan spesialis fertilitas. Jeanne terkejut mengetahui bahwa penurunan kualitas sel telur terkait usia merupakan hambatan utama untuk hamil.
“Kami mencoba fertilisasi in vitro (IVF) ketika saya berusia 37. Saya hamil, tetapi mengalami keguguran karena masalah kualitas sel telur,” kata Jeanne. Ia dan suaminya akhirnya memutuskan membangun keluarga melalui adopsi. Pada usia 40, mereka telah mengadopsi dua putra dari Ukraina.
1. Menunggu Terlalu Lama?
Lebih banyak perempuan menunda persalinan hingga usia 30-an atau bahkan 40-an. Menurut American Society for Reproductive Medicine, pada usia 40, dua pertiga perempuan tidak dapat hamil secara alami. Hal ini karena kualitas sel telur dan fungsi ovarium berubah seiring usia.
Dr. Ruth Fretts, dokter obstetri-ginekologi di Harvard Medical School dan Brigham and Women's Hospital, berkata: “Usia pada akhirnya merupakan faktor utama. Perempuan sering tidak ingin mendengar hal ini, tetapi penelitian luas menunjukkan bahwa menunda persalinan meningkatkan risiko infertilitas.”
Dr. Steven Goldstein, dokter obstetri-ginekologi di New York University Medical Center, juga menekankan hal ini. Seorang perempuan yang berfokus pada karier mungkin menikah pada usia 38 atau 39 dan berencana menunggu beberapa tahun lagi sebelum memiliki anak, tetapi penurunan kualitas sel telur dapat mencegahnya hamil ketika ia siap.
2. Pilihan Kontrasepsi Baru
Pasangan modern kini memiliki lebih banyak pilihan perencanaan keluarga, termasuk:
Mirena: Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yang lebih baru dan dapat digunakan hingga lima tahun.
Lunelle: Suntikan estrogen/progestin sintetis bulanan, diberikan setiap 28 hingga 30 hari.
Ortho Evra: Plester kontrasepsi pertama, melepaskan estrogen dan progestin melalui kulit serta diganti setiap tujuh hari.
NuvaRing: Cincin vagina kecil dan fleksibel yang melepaskan estrogen dan progestin dosis rendah selama 21 hari.
3. Apakah Ukuran Keluarga dan Jarak Kelahiran Penting?
Terlepas dari tren penundaan persalinan yang meningkat, ukuran keluarga di Amerika Serikat tidak berubah secara signifikan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), perempuan rata-rata memiliki 2.1 anak sepanjang hidupnya, sedikit lebih banyak dibandingkan sebagian besar periode 1970-an dan 1980-an.
Beberapa orang tua menggunakan kontrasepsi untuk mengatur jarak kelahiran dengan tepat. Banyak psikolog anak menyarankan bahwa jarak tiga hingga tiga setengah tahun antar anak adalah ideal. Sebuah studi CDC juga menemukan bahwa bayi paling sehat ketika jarak dari persalinan hingga kehamilan berikutnya adalah 18 hingga 23 bulan, dengan risiko kelahiran prematur dan berat lahir rendah yang lebih kecil.
Terapis keluarga Dr. Gayle Peterson mencatat bahwa lebih banyak perempuan yang merencanakan keluarga menyadari bahwa “memiliki semuanya” tidak realistis. Mereka berusaha menyeimbangkan menikmati hidup dengan menjadikan keluarga sebagai prioritas.
Dalam milenium baru, perempuan semakin menyadari bahwa mereka tidak dapat bekerja berlebihan tanpa batas. Perencanaan keluarga membutuhkan pandangan ke depan yang lebih baik untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara karier dan keluarga.
Sumber:
Dikumpulkan dari internet
Penulis LinkedIVF TeamDiterbitkan 2024-07-30
Artikel ini menggunakan bantuan AI; LinkedIVF belum mencatat tinjauan editorial untuk artikel ini. Ini bukan nasihat medis.
Panduan | Tren Baru Perencanaan Keluarga: Menyeimbangkan Karier dan Pengasuhan Anak
Panduan | Tren Baru Perencanaan Keluarga: Menyeimbangkan Karier dan Pengasuhan Anak
Seiring perkembangan masyarakat modern, lebih banyak perempuan menunda persalinan untuk mengejar karier atau menikah di usia lebih tua. Namun, keputusan ini dapat membawa tantangan yang tidak terduga. Kisah Jeanne Meyers adalah contoh yang umum.
Ketika Jeanne menikah pada usia 30-an, ia menunda memiliki anak karena ia dan suaminya sama-sama sukses dalam karier. Mereka berpikir dapat menunggu beberapa tahun sebelum membangun keluarga. Namun, ketika mereka memutuskan untuk memiliki anak pada usia 35, kehamilan ternyata sulit dicapai. Setelah berbulan-bulan mengalami kekecewaan, mereka berkonsultasi dengan spesialis fertilitas. Jeanne terkejut mengetahui bahwa penurunan kualitas sel telur terkait usia merupakan hambatan utama untuk hamil.
“Kami mencoba fertilisasi in vitro (IVF) ketika saya berusia 37. Saya hamil, tetapi mengalami keguguran karena masalah kualitas sel telur,” kata Jeanne. Ia dan suaminya akhirnya memutuskan membangun keluarga melalui adopsi. Pada usia 40, mereka telah mengadopsi dua putra dari Ukraina.
1. Menunggu Terlalu Lama?
Lebih banyak perempuan menunda persalinan hingga usia 30-an atau bahkan 40-an. Menurut American Society for Reproductive Medicine, pada usia 40, dua pertiga perempuan tidak dapat hamil secara alami. Hal ini karena kualitas sel telur dan fungsi ovarium berubah seiring usia.
Dr. Ruth Fretts, dokter obstetri-ginekologi di Harvard Medical School dan Brigham and Women's Hospital, berkata: “Usia pada akhirnya merupakan faktor utama. Perempuan sering tidak ingin mendengar hal ini, tetapi penelitian luas menunjukkan bahwa menunda persalinan meningkatkan risiko infertilitas.”
Dr. Steven Goldstein, dokter obstetri-ginekologi di New York University Medical Center, juga menekankan hal ini. Seorang perempuan yang berfokus pada karier mungkin menikah pada usia 38 atau 39 dan berencana menunggu beberapa tahun lagi sebelum memiliki anak, tetapi penurunan kualitas sel telur dapat mencegahnya hamil ketika ia siap.
2. Pilihan Kontrasepsi Baru
Pasangan modern kini memiliki lebih banyak pilihan perencanaan keluarga, termasuk:
Mirena: Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yang lebih baru dan dapat digunakan hingga lima tahun.
Lunelle: Suntikan estrogen/progestin sintetis bulanan, diberikan setiap 28 hingga 30 hari.
Ortho Evra: Plester kontrasepsi pertama, melepaskan estrogen dan progestin melalui kulit serta diganti setiap tujuh hari.
NuvaRing: Cincin vagina kecil dan fleksibel yang melepaskan estrogen dan progestin dosis rendah selama 21 hari.
3. Apakah Ukuran Keluarga dan Jarak Kelahiran Penting?
Terlepas dari tren penundaan persalinan yang meningkat, ukuran keluarga di Amerika Serikat tidak berubah secara signifikan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), perempuan rata-rata memiliki 2.1 anak sepanjang hidupnya, sedikit lebih banyak dibandingkan sebagian besar periode 1970-an dan 1980-an.
Beberapa orang tua menggunakan kontrasepsi untuk mengatur jarak kelahiran dengan tepat. Banyak psikolog anak menyarankan bahwa jarak tiga hingga tiga setengah tahun antar anak adalah ideal. Sebuah studi CDC juga menemukan bahwa bayi paling sehat ketika jarak dari persalinan hingga kehamilan berikutnya adalah 18 hingga 23 bulan, dengan risiko kelahiran prematur dan berat lahir rendah yang lebih kecil.
Terapis keluarga Dr. Gayle Peterson mencatat bahwa lebih banyak perempuan yang merencanakan keluarga menyadari bahwa “memiliki semuanya” tidak realistis. Mereka berusaha menyeimbangkan menikmati hidup dengan menjadikan keluarga sebagai prioritas.
Dalam milenium baru, perempuan semakin menyadari bahwa mereka tidak dapat bekerja berlebihan tanpa batas. Perencanaan keluarga membutuhkan pandangan ke depan yang lebih baik untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara karier dan keluarga.
Sumber:
Dikumpulkan dari internet