Berita | Peta Interaksi Molekuler Baru Mengungkap Cara Kerja Ovulasi Ovarium



Berita | Peta Interaksi Molekuler Baru Mengungkap Cara Kerja Ovulasi Ovarium


Tim lintas disiplin di Cornell University baru-baru ini menggunakan teknologi penandaan RNA canggih untuk memetakan ekspresi gen selama pematangan folikel dan ovulasi pada tikus. Studi ini mengungkap banyak interaksi seluler dan molekuler yang sebelumnya belum diketahui dan penting bagi kesuburan perempuan. Temuan ini dapat membuka jalan baru bagi penanganan infertilitas.


Materi kelopak_rantai gen molekul DNA yang diperbesar_183887013.jpg


Studi ini diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences pada Januari 22, 2024. Studi ini dipimpin bersama oleh Iwijn De Vlaminck, profesor madya teknik biomedis di Cornell University, dan Yi Ren, asisten profesor ilmu hewan di College of Agriculture and Life Sciences. Penulis utama adalah Madhav Mantri, lulusan doktoral Cornell yang kini menjadi peneliti pascadoktoral di Stanford University.


De Vlaminck sebelumnya menggunakan transkriptomik spasiotemporal beresolusi tinggi untuk mempelajari keseluruhan RNA dalam jaringan tikus, yang mengungkap peran RNA dalam regenerasi otot rangka dan miokarditis virus. Teknik transkriptomik ini mengubah RNA menjadi salinan DNA, menggunakan kode batang untuk menangkap lokasi spasialnya, dan mengubah data menjadi gambar.


Pada 2022, De Vlaminck mempresentasikan penelitiannya tentang miokarditis dalam seminar imunologi, yang memicu minat Ren. Ia bertanya-tanya apakah metode itu dapat diterapkan di bidangnya untuk menguraikan mekanisme seluler dan molekuler yang mengatur ovulasi.


Ovulasi memerlukan koordinasi yang tepat antara sel germinal perempuan, atau oosit, dan pecahnya folikel, yang menyediakan lingkungan bagi pertumbuhan dan pematangan oosit. Pada tikus, pecahnya folikel terjadi setiap empat hingga lima hari; pada perempuan, hal ini terjadi sekitar setiap empat minggu. Setelah oosit meninggalkan ovarium, kelangsungan hidupnya cepat menurun, sehingga waktu pelepasannya sangat penting.


Dengan melacak berbagai jenis sel dalam ovarium tikus pada resolusi spasiotemporal tinggi, tim menemukan proses seleksi tambahan yang dialami folikel selama satu jam sebelum ovulasi. Proses ini sebelumnya belum teridentifikasi, dan bila terganggu dapat menurunkan tingkat ovulasi serta memengaruhi kesuburan.


Selain mengungkap proses seleksi folikel, studi ini mengidentifikasi jalur diferensiasi yang diikuti sel ovarium pada tahap awal dan akhir ovulasi. Temuan ini memberikan wawasan dasar bagi biologi struktural dan mengarah pada penanganan infertilitas baru.


De Vlaminck dan Ren selanjutnya berencana menyelidiki masalah kesuburan dan ovulasi yang terkait dengan obesitas serta penuaan reproduksi. Penelitian mereka dapat memberi harapan bagi lebih dari 10% pasien yang infertilitasnya disebabkan oleh kegagalan ovulasi, khususnya dalam konteks obesitas dan meningkatnya usia ibu.


Studi ini didanai oleh Cornell Center for Vertebrate Genomics dan Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development.


Sumber artikel:

Dikumpulkan secara daring

Diterbitkan 2024-08-17
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial sebelum diterbitkan.
Konten ini hanya untuk informasi dan bukan nasihat medis. Konsultasikan dengan tenaga medis berizin. Panduan konten dan kebijakan editorial

Anda Mungkin Juga Menyukai

Kami Akan Segera Menghubungi Anda

Masukkan data Anda dan kami akan segera menghubungi Anda.
  • Tes Genetik Prapenempelan dan IVF
    IVF dengan Sel Telur atau Sperma Donor
    Informasi Reproduksi Pihak Ketiga (Tunduk pada Hukum Setempat)
    Lainnya