Panduan | Perempuan yang Lahir Tanpa Rahim Melahirkan Setelah Transplantasi Berhasil
Seorang perempuan yang lahir tanpa rahim melahirkan bayi laki-laki di Alabama, Amerika Serikat. Peristiwa ini dilaporkan sebagai kehamilan dan kelahiran pertama di dunia yang berhasil setelah transplantasi rahim di luar uji klinis.
Pejabat University of Alabama-Birmingham Hospital mengatakan tonggak ini menandai kemajuan penting bagi program transplantasi rahim mereka dan dapat membantu mendukung cakupan asuransi untuk perawatan tersebut.
Transplantasi rahim, IVF, dan kehamilan dapat melibatkan hingga 50 tenaga kesehatan dan ditujukan untuk membantu perempuan dengan infertilitas faktor uterus (UFI). Diperkirakan 5% perempuan usia reproduktif di seluruh dunia dapat terdampak. Perempuan dengan UFI tidak dapat mengandung karena lahir tanpa rahim, telah menjalani histerektomi, atau memiliki rahim yang tidak berfungsi.
Perempuan tersebut, Mallory, didiagnosis pada usia 17 dengan Sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser, yang berarti ia lahir tanpa rahim. Mallory dan keluarganya pindah ke Birmingham untuk mengikuti program transplantasi rahim rumah sakit tersebut. Sebelumnya, ia telah memiliki seorang putri dengan saudarinya sebagai ibu pengganti.
Kehamilan ini terjadi setelah transplantasi rahim dari donor yang telah meninggal. Mallory melahirkan putranya pada Mei.
Pengobatan Imunosupresif dan Tantangan Transplantasi Rahim
“Seperti transplantasi organ lainnya, perempuan penerima transplantasi rahim harus mengonsumsi obat imunosupresif untuk mencegah penolakan,” demikian pernyataan situs web program rumah sakit tersebut. “Setelah bayi lahir, bila perempuan tersebut tidak merencanakan kehamilan lagi, rahim yang ditransplantasikan akan diangkat melalui histerektomi dan obat antipenolakan tidak lagi diperlukan.”
Mallory mengatakan dalam sebuah wawancara: “Orang dengan infertilitas faktor uterus mungkin memiliki beberapa cara untuk membangun keluarga, tetapi transplantasi rahim adalah pilihan yang selalu saya harapkan. Mendengar bayi saya menangis sungguh luar biasa.”
Prospek: Penggunaan Transplantasi Rahim yang Lebih Luas
Prosedur yang berhasil ini membawa harapan bagi keluarga Mallory dan dapat menawarkan pilihan lain bagi banyak perempuan di seluruh dunia dengan infertilitas faktor uterus. Seiring teknologi ini makin matang dan tersedia secara lebih luas, tindakan ini dapat memungkinkan lebih banyak perempuan mengandung dan mendukung cakupan asuransi yang lebih luas.
Sumber:
Dihimpun secara daring
Diterbitkan 2025-02-14
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial sebelum diterbitkan.
Panduan | Perempuan yang Lahir Tanpa Rahim Melahirkan Setelah Transplantasi Berhasil
Panduan | Perempuan yang Lahir Tanpa Rahim Melahirkan Setelah Transplantasi Berhasil
Seorang perempuan yang lahir tanpa rahim melahirkan bayi laki-laki di Alabama, Amerika Serikat. Peristiwa ini dilaporkan sebagai kehamilan dan kelahiran pertama di dunia yang berhasil setelah transplantasi rahim di luar uji klinis.
Pejabat University of Alabama-Birmingham Hospital mengatakan tonggak ini menandai kemajuan penting bagi program transplantasi rahim mereka dan dapat membantu mendukung cakupan asuransi untuk perawatan tersebut.
Transplantasi rahim, IVF, dan kehamilan dapat melibatkan hingga 50 tenaga kesehatan dan ditujukan untuk membantu perempuan dengan infertilitas faktor uterus (UFI). Diperkirakan 5% perempuan usia reproduktif di seluruh dunia dapat terdampak. Perempuan dengan UFI tidak dapat mengandung karena lahir tanpa rahim, telah menjalani histerektomi, atau memiliki rahim yang tidak berfungsi.
Perempuan tersebut, Mallory, didiagnosis pada usia 17 dengan Sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser, yang berarti ia lahir tanpa rahim. Mallory dan keluarganya pindah ke Birmingham untuk mengikuti program transplantasi rahim rumah sakit tersebut. Sebelumnya, ia telah memiliki seorang putri dengan saudarinya sebagai ibu pengganti.
Kehamilan ini terjadi setelah transplantasi rahim dari donor yang telah meninggal. Mallory melahirkan putranya pada Mei.
Pengobatan Imunosupresif dan Tantangan Transplantasi Rahim
“Seperti transplantasi organ lainnya, perempuan penerima transplantasi rahim harus mengonsumsi obat imunosupresif untuk mencegah penolakan,” demikian pernyataan situs web program rumah sakit tersebut. “Setelah bayi lahir, bila perempuan tersebut tidak merencanakan kehamilan lagi, rahim yang ditransplantasikan akan diangkat melalui histerektomi dan obat antipenolakan tidak lagi diperlukan.”
Mallory mengatakan dalam sebuah wawancara: “Orang dengan infertilitas faktor uterus mungkin memiliki beberapa cara untuk membangun keluarga, tetapi transplantasi rahim adalah pilihan yang selalu saya harapkan. Mendengar bayi saya menangis sungguh luar biasa.”
Prospek: Penggunaan Transplantasi Rahim yang Lebih Luas
Prosedur yang berhasil ini membawa harapan bagi keluarga Mallory dan dapat menawarkan pilihan lain bagi banyak perempuan di seluruh dunia dengan infertilitas faktor uterus. Seiring teknologi ini makin matang dan tersedia secara lebih luas, tindakan ini dapat memungkinkan lebih banyak perempuan mengandung dan mendukung cakupan asuransi yang lebih luas.
Sumber:
Dihimpun secara daring