Pengetahuan | Kapan Janin Dapat Merasakan Nyeri? Bukti Baru dan Perdebatan Ilmiah yang Berlanjut



Pengetahuan | Kapan Janin Dapat Merasakan Nyeri? Bukti Baru dan Perdebatan Ilmiah yang Berlanjut

Pengetahuan | Kapan Janin Dapat Merasakan Nyeri? Bukti Baru dan Perdebatan Ilmiah yang Berlanjut


Pakar medis terus berbeda pendapat mengenai kapan janin mulai merasakan nyeri di dalam rahim. Menurut laporan dari AS yang ditinjau secara medis oleh Traci C. Johnson, MD, sebagian besar organisasi medis utama menyatakan bahwa persepsi nyeri hanya mungkin setelah 24 minggu kehamilan, sementara beberapa ahli saraf berpendapat bahwa janin mungkin mengalami rangsang nyeri sejak 12 minggu.


Perdebatan ini berkaitan erat dengan kebijakan aborsi, etika pembedahan janin, dan kedokteran maternal-fetal.


Perbedaan utama dalam bukti

Nyeri janin sulit diteliti karena peneliti tidak dapat mengonfirmasi secara langsung pengalaman subjektif janin dan harus menyimpulkannya dari perkembangan neurologis, respons fisiologis, dan perubahan hormonal.


American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), Society for Maternal-Fetal Medicine (SMFM), dan Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) umumnya menyatakan bahwa persepsi nyeri yang sesungguhnya memerlukan dasar neurologis berikut:


Koneksi matang harus terbentuk antara korteks dan talamus, yang umumnya terjadi setelah 24–25 minggu;


Meskipun jalur nyeri dasar mungkin sudah ada lebih awal, koneksi sarafnya belum dapat membedakan sentuhan dari nyeri;


Respons terhadap rangsang sebelum 28 minggu umumnya bersifat refleks atau hormonal, bukan pengalaman nyeri yang disadari;


Analgesik yang digunakan selama pembedahan janin terutama mengurangi gerakan janin dan cedera terkait stres serta tidak mengonfirmasi persepsi nyeri subjektif.


Ilmuwan lain berpendapat bahwa nyeri tidak seharusnya didefinisikan hanya berdasarkan kesadaran. Mereka mencatat bahwa:


Reseptor nyeri mulai berkembang pada 7 minggu dan terhubung dengan otak pada 12–15 minggu;


Sublempeng kortikal janin awal dan talamus mungkin cukup untuk menghantarkan sinyal nyeri;


Beberapa bukti neurokimia menunjukkan bahwa otak janin tidak selalu berada dalam keadaan seperti tidur dan mungkin mendukung pengalaman nyeri awal.


Ketika kemajuan medis bertemu etika

Peningkatan kelangsungan hidup bayi prematur telah membuat implikasi etis menjadi lebih kompleks. Bayi yang lahir pada usia 22–23 minggu kini dapat bertahan hidup, dan dunia medis umumnya mengakui bahwa bayi prematur dapat merasakan nyeri. Hal ini membuat beberapa peneliti mempertanyakan apakah janin pada usia kehamilan serupa juga dapat merasakan nyeri.


Pertanyaan ini secara langsung memengaruhi perundang-undangan aborsi. Pada musim semi 2023, kebijakan negara bagian di AS mencakup:


4 negara bagian melarang aborsi antara 6 dan 20 minggu;


9 negara bagian melarangnya setelah 22 minggu;


4 negara bagian membatasinya pada 24 minggu;


3 negara bagian menggunakan viabilitas janin sebagai batas;


1 negara bagian melarangnya pada 25 minggu, pada trimester ketiga;


13 negara bagian melarang aborsi sepenuhnya.


Namun, data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS menunjukkan bahwa lebih dari 93% aborsi terjadi sebelum 13 minggu, 5.5% pada 14–20 minggu, dan kurang dari 1% setelah 21 minggu.


Namun demikian, beberapa ahli mendukung pertimbangan analgesia janin untuk aborsi pada tahap lanjut guna mengurangi kemungkinan respons nyeri.


Analgesia pada pembedahan janin

Selama pembedahan intrauterin, anestetik biasanya diberikan kepada perempuan hamil dan melewati plasenta menuju janin. Penelitian menunjukkan bahwa metode tidak langsung ini mungkin tidak sepenuhnya mencegah respons stres janin.


Setelah trimester kedua, klinisi karena itu sering memberikan opioid atau obat lain yang menekan gerakan secara langsung kepada janin untuk mencegah cedera terkait stres selama pembedahan. American Society of Anesthesiologists dan North American Fetal Therapy Network (NAFTNet) kini merekomendasikan analgesia janin untuk semua prosedur janin invasif.


Praktik ini dianggap aman bagi ibu dan janin, dengan sedikit efek samping.


Meskipun masih belum ada bukti definitif yang menetapkan kapan janin benar-benar merasakan nyeri, pembahasan dalam ilmu saraf, etika, dan kebijakan terus membentuk pemahaman publik dan medis tentang kesadaran sensorik sebelum kelahiran.


Sumber:

Dikumpulkan dari internet

Diterbitkan 2025-10-09
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial sebelum diterbitkan.
Konten ini hanya untuk informasi dan bukan nasihat medis. Konsultasikan dengan tenaga medis berizin. Panduan konten dan kebijakan editorial

Anda Mungkin Juga Menyukai

Kami Akan Segera Menghubungi Anda

Masukkan data Anda dan kami akan segera menghubungi Anda.
  • Tes Genetik Prapenempelan dan IVF
    IVF dengan Sel Telur atau Sperma Donor
    Informasi Reproduksi Pihak Ketiga (Tunduk pada Hukum Setempat)
    Lainnya