Berita | Makan Berbatas Waktu: Penurunan Berat Badan Tanpa Perubahan Kadar Hormon Seks



Berita | Makan dengan Batas Waktu: Penurunan Berat Badan Tanpa Perubahan Kadar Hormon Seks


Makan dengan Batas Waktu: Penurunan Berat Badan Tanpa Perubahan Kadar Hormon Seks

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam European Journal of Clinical Nutrition mengevaluasi dampak makan dengan batas waktu (TRE) dan pembatasan kalori (CR) terhadap hormon seks.


WX20240617-154021@2x.png


Latar Belakang

Makan dengan batas waktu (TRE) adalah intervensi penurunan berat badan yang membatasi waktu makan dalam jendela 4–10 jam, diikuti puasa dengan hanya minuman tanpa kalori. Meski berpotensi bermanfaat bagi kesehatan, masih ada kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap hormon seks. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa TRE dapat berdampak negatif pada estrogen, sehingga menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur dan masalah kesuburan. Penelitian lain menunjukkan bahwa TRE dapat menurunkan testosteron, massa otot, dan libido pada pria. Bukti masih terbatas, dan penelitian sebelumnya memiliki sampel kecil, tanpa kelompok kontrol, berlangsung singkat, serta tidak mengevaluasi dampak setelah dua bulan.


Gambaran Studi

Para peneliti membandingkan dampak TRE dan CR terhadap hormon reproduksi pada pria serta wanita pramenopause dan pascamenopause selama 12 bulan. Ini merupakan analisis sekunder dari uji coba yang telah dipublikasikan, yang membandingkan dampak CR dan TRE terhadap faktor risiko metabolik dan berat badan. Peserta berusia 18–65 tahun dengan indeks massa tubuh 30–50 kg/m².

Studi ini mengecualikan perokok, wanita hamil, penderita diabetes, pekerja shift, wanita perimenopause, pengguna alat kontrasepsi dalam rahim atau terapi penggantian hormon, serta orang yang berat badannya tidak stabil selama tiga bulan sebelumnya. Peserta secara acak ditugaskan ke kelompok CR, TRE, atau kontrol. Uji coba mencakup fase penurunan berat badan selama enam bulan dan fase pemeliharaan selama enam bulan.

Selama penurunan berat badan, kelompok TRE makan bebas dari pukul 12 p.m. hingga 8 p.m., lalu berpuasa sampai tengah hari berikutnya dengan hanya minuman tanpa kalori. Selama pemeliharaan, jendela makan diperpanjang dari pukul 10 a.m. hingga 8 p.m. Kelompok CR mengurangi asupan energi harian sebesar 25% selama enam bulan, kemudian mengonsumsi kebutuhan energi yang telah dihitung selama enam bulan. Kelompok kontrol mempertahankan olahraga, pola makan, dan berat badan seperti biasa.

Sampel darah puasa digunakan untuk mengukur kadar testosteron total, dehidroepiandrosteron (DHEA), progesteron, estron, estradiol, dan globulin pengikat hormon seks (SHBG) yang beredar. Perubahan antarkelompok dibandingkan menggunakan analisis kovarians, sedangkan hubungan antara hormon seks dan berat badan dinilai dengan koefisien korelasi Spearman atau Pearson.


Hasil

Dari 126 orang yang disaring, 30 diacak ke dalam kelompok studi. Pada akhirnya, 77 peserta menyelesaikan 12 bulan, dan analisis mencakup 73 peserta yang menyelesaikan studi dengan sampel darah memadai. Mereka terdiri atas 10 pria, 44 wanita pramenopause, dan 19 wanita pascamenopause, dengan usia rata-rata masing-masing 42, 39, dan 56. Setelah 12 bulan, berat badan menurun secara signifikan pada kelompok TRE dan CR dibandingkan kelompok kontrol, tanpa perbedaan antara TRE dan CR. SHBG, DHEA, dan testosteron total tidak berubah seiring waktu atau antarkelompok pada wanita maupun pria. Progesteron, estradiol, dan estron tidak berubah pada wanita pascamenopause di kedua kelompok intervensi. Penurunan berat badan tidak berhubungan dengan perubahan hormon seks.


Kesimpulan

Secara keseluruhan, TRE secara signifikan menurunkan berat badan selama 12 bulan, tetapi tidak memengaruhi hormon seks pada pria atau wanita dengan obesitas dibandingkan CR maupun kelompok kontrol. Perubahan hormon mungkin terjadi pada bulan-bulan awal intervensi dan kembali mendekati nilai awal saat berat badan stabil. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini.


Sumber:

Dihimpun dari internet

Penulis LinkedIVF TeamDiterbitkan 2024-06-17
Artikel ini menggunakan bantuan AI; LinkedIVF belum mencatat tinjauan editorial untuk artikel ini. Ini bukan nasihat medis.
Konten ini hanya untuk informasi dan bukan nasihat medis. Konsultasikan dengan tenaga medis berizin. Panduan konten dan kebijakan editorial

Anda Mungkin Juga Menyukai

Kami Akan Segera Menghubungi Anda

Masukkan data Anda dan kami akan segera menghubungi Anda.
  • Tes Genetik Prapenempelan dan IVF
    IVF dengan Sel Telur atau Sperma Donor
    Informasi Reproduksi Pihak Ketiga (Tunduk pada Hukum Setempat)
    Lainnya