Berita | Studi Baru Meneliti Faktor Gaya Hidup yang Berkaitan dengan Keberhasilan IVF
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Frontiers in Endocrinology meneliti bagaimana faktor gaya hidup dan kualitas hidup khusus fertilitas (QOL) memengaruhi hasil pengobatan teknologi reproduksi berbantuan (ART).
Latar Belakang
Infertilitas memengaruhi sekitar 48.5 juta pasangan di seluruh dunia, sehingga meningkatkan permintaan terhadap ART. Antara 2.5 juta dan 3 juta siklus dilakukan secara global setiap tahun, termasuk hampir 450,000 di Jepang. Satu dari setiap 13.9 bayi di Jepang lahir melalui ART. Usia, cadangan ovarium, dan pilihan gaya hidup seperti pola makan, merokok, olahraga, serta tidur secara luas diakui sebagai faktor yang memengaruhi keberhasilan pengobatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan perlunya menilai QOL dengan instrumen Fertility Quality of Life (FertiQoL). Namun, hubungan antara QOL khusus fertilitas dan hasil ART memerlukan penelitian lebih lanjut untuk lebih memahami interaksi kompleksnya.
Gambaran Studi
Studi ini berfokus pada pasangan dengan infertilitas yang menjalani pengobatan fertilisasi in vitro (IVF) pertama mereka. Peserta dipilih berdasarkan kriteria kesehatan dan demografis tertentu. Mereka mencatat faktor gaya hidup termasuk pola makan, pola tidur, kebiasaan kerja, penggunaan komputer, status merokok, dan aktivitas fisik. Kuesioner FertiQoL juga digunakan untuk menilai QOL khusus fertilitas dan mengkaji pengaruhnya terhadap hasil pengobatan.
Studi ini menjelaskan protokol stimulasi ovarium terkontrol, prosedur laboratorium, dan transfer embrio (ET), termasuk dosis serta jadwal obat yang disesuaikan untuk setiap pasien. Blastokista berkualitas tinggi dipilih untuk transfer menggunakan sistem penilaian Gardner, dengan masa jeda yang diperlukan antara stimulasi dan ET. Hasil IVF/injeksi sperma intrasitoplasmik (ICSI) dicatat secara tepat, mulai dari kadar hormon, pembuahan, dan perkembangan embrio hingga konfirmasi kehamilan melalui pemeriksaan serum human chorionic gonadotropin (hCG) serta deteksi kantung gestasi (GS) dengan ultrasonografi transvaginal.
Hasil
Dari Mei 2019 hingga Maret 2022, 291 perempuan yang awalnya dipertimbangkan untuk pengobatan IVF pertama di IVF Japan Group dan University of Tokyo Hospital mengikuti studi ini. Setelah mengecualikan peserta yang menghentikan pengobatan, hamil secara spontan, atau memenuhi kriteria eksklusi, 281 menjalani stimulasi ovarium terkontrol dan pengambilan sel telur. Pengecualian lebih lanjut karena alasan termasuk kegagalan pembuahan, tidak adanya embrio berkualitas tinggi, dan hilang tindak lanjut menyisakan 260 peserta yang menerima ET; 200 menjalani transfer blastokista tunggal (blast-SET). Di antara mereka, 139 perempuan memiliki hasil hCG positif yang menunjukkan kehamilan, dan satu GS terdeteksi pada 121, tanpa kehamilan ganda.
Perempuan berusia di atas 36 atau dengan penyakit Hashimoto memiliki angka blastokista berkualitas tinggi yang secara signifikan lebih rendah, sementara konsumsi ikan yang sering juga dikaitkan dengan tren penurunan. Analisis semua siklus ET menunjukkan bahwa perempuan yang lebih tua lebih kecil kemungkinannya mendapatkan tes kehamilan positif. Sebaliknya, tidur yang cukup, penggunaan komputer, dan memiliki pasangan tidak merokok dikaitkan dengan angka kehamilan yang lebih tinggi. GS setelah ET lebih mungkin terdeteksi pada perempuan yang menggunakan minyak zaitun, menghabiskan waktu lebih lama menggunakan komputer, dan memiliki indeks massa tubuh (BMI) setidaknya 20.8 kg/m², sedangkan usia yang lebih tua menurunkan kemungkinan ini.
Pada siklus blast-SET, penggunaan komputer selama empat jam atau lebih per hari dikaitkan dengan peluang yang secara signifikan lebih tinggi untuk tes kehamilan positif dan deteksi GS. Perempuan yang lebih tua lebih kecil kemungkinannya mendapatkan tes kehamilan positif. Skor total FertiQoL yang lebih tinggi dan ambang BMI tertentu tampak menguntungkan untuk deteksi GS, tetapi temuan ini menunjukkan tren, bukan bukti yang konklusif.
Kesimpulan
Studi ini meneliti pengaruh gaya hidup, pola makan, dan QOL khusus fertilitas terhadap hasil ART pada perempuan Asia Timur. Temuan utama mencakup hubungan negatif usia yang lebih tua dan penyakit Hashimoto dengan kualitas blastokista, serta hubungan positif tidur cukup, penggunaan komputer, dan konsumsi minyak zaitun dengan keberhasilan kehamilan. Hubungan negatif merokok pada pria dengan hasil juga menyoroti pentingnya faktor gaya hidup dalam keberhasilan reproduksi.
Referensi:
Dikumpulkan secara daring
Diterbitkan 2024-07-12
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial sebelum diterbitkan.
Berita | Studi Baru Meneliti Faktor Gaya Hidup yang Berkaitan dengan Keberhasilan IVF
Berita | Studi Baru Meneliti Faktor Gaya Hidup yang Berkaitan dengan Keberhasilan IVF
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Frontiers in Endocrinology meneliti bagaimana faktor gaya hidup dan kualitas hidup khusus fertilitas (QOL) memengaruhi hasil pengobatan teknologi reproduksi berbantuan (ART).
Latar Belakang
Infertilitas memengaruhi sekitar 48.5 juta pasangan di seluruh dunia, sehingga meningkatkan permintaan terhadap ART. Antara 2.5 juta dan 3 juta siklus dilakukan secara global setiap tahun, termasuk hampir 450,000 di Jepang. Satu dari setiap 13.9 bayi di Jepang lahir melalui ART. Usia, cadangan ovarium, dan pilihan gaya hidup seperti pola makan, merokok, olahraga, serta tidur secara luas diakui sebagai faktor yang memengaruhi keberhasilan pengobatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan perlunya menilai QOL dengan instrumen Fertility Quality of Life (FertiQoL). Namun, hubungan antara QOL khusus fertilitas dan hasil ART memerlukan penelitian lebih lanjut untuk lebih memahami interaksi kompleksnya.
Gambaran Studi
Studi ini berfokus pada pasangan dengan infertilitas yang menjalani pengobatan fertilisasi in vitro (IVF) pertama mereka. Peserta dipilih berdasarkan kriteria kesehatan dan demografis tertentu. Mereka mencatat faktor gaya hidup termasuk pola makan, pola tidur, kebiasaan kerja, penggunaan komputer, status merokok, dan aktivitas fisik. Kuesioner FertiQoL juga digunakan untuk menilai QOL khusus fertilitas dan mengkaji pengaruhnya terhadap hasil pengobatan.
Studi ini menjelaskan protokol stimulasi ovarium terkontrol, prosedur laboratorium, dan transfer embrio (ET), termasuk dosis serta jadwal obat yang disesuaikan untuk setiap pasien. Blastokista berkualitas tinggi dipilih untuk transfer menggunakan sistem penilaian Gardner, dengan masa jeda yang diperlukan antara stimulasi dan ET. Hasil IVF/injeksi sperma intrasitoplasmik (ICSI) dicatat secara tepat, mulai dari kadar hormon, pembuahan, dan perkembangan embrio hingga konfirmasi kehamilan melalui pemeriksaan serum human chorionic gonadotropin (hCG) serta deteksi kantung gestasi (GS) dengan ultrasonografi transvaginal.
Hasil
Dari Mei 2019 hingga Maret 2022, 291 perempuan yang awalnya dipertimbangkan untuk pengobatan IVF pertama di IVF Japan Group dan University of Tokyo Hospital mengikuti studi ini. Setelah mengecualikan peserta yang menghentikan pengobatan, hamil secara spontan, atau memenuhi kriteria eksklusi, 281 menjalani stimulasi ovarium terkontrol dan pengambilan sel telur. Pengecualian lebih lanjut karena alasan termasuk kegagalan pembuahan, tidak adanya embrio berkualitas tinggi, dan hilang tindak lanjut menyisakan 260 peserta yang menerima ET; 200 menjalani transfer blastokista tunggal (blast-SET). Di antara mereka, 139 perempuan memiliki hasil hCG positif yang menunjukkan kehamilan, dan satu GS terdeteksi pada 121, tanpa kehamilan ganda.
Perempuan berusia di atas 36 atau dengan penyakit Hashimoto memiliki angka blastokista berkualitas tinggi yang secara signifikan lebih rendah, sementara konsumsi ikan yang sering juga dikaitkan dengan tren penurunan. Analisis semua siklus ET menunjukkan bahwa perempuan yang lebih tua lebih kecil kemungkinannya mendapatkan tes kehamilan positif. Sebaliknya, tidur yang cukup, penggunaan komputer, dan memiliki pasangan tidak merokok dikaitkan dengan angka kehamilan yang lebih tinggi. GS setelah ET lebih mungkin terdeteksi pada perempuan yang menggunakan minyak zaitun, menghabiskan waktu lebih lama menggunakan komputer, dan memiliki indeks massa tubuh (BMI) setidaknya 20.8 kg/m², sedangkan usia yang lebih tua menurunkan kemungkinan ini.
Pada siklus blast-SET, penggunaan komputer selama empat jam atau lebih per hari dikaitkan dengan peluang yang secara signifikan lebih tinggi untuk tes kehamilan positif dan deteksi GS. Perempuan yang lebih tua lebih kecil kemungkinannya mendapatkan tes kehamilan positif. Skor total FertiQoL yang lebih tinggi dan ambang BMI tertentu tampak menguntungkan untuk deteksi GS, tetapi temuan ini menunjukkan tren, bukan bukti yang konklusif.
Kesimpulan
Studi ini meneliti pengaruh gaya hidup, pola makan, dan QOL khusus fertilitas terhadap hasil ART pada perempuan Asia Timur. Temuan utama mencakup hubungan negatif usia yang lebih tua dan penyakit Hashimoto dengan kualitas blastokista, serta hubungan positif tidur cukup, penggunaan komputer, dan konsumsi minyak zaitun dengan keberhasilan kehamilan. Hubungan negatif merokok pada pria dengan hasil juga menyoroti pentingnya faktor gaya hidup dalam keberhasilan reproduksi.
Referensi:
Dikumpulkan secara daring