Pengetahuan | Dapatkah Pola Makan Ayah Mendukung Bayi yang Lebih Sehat? Studi Menunjukkan Asam Folat Mungkin Penting



Pengetahuan | Dapatkah Pola Makan Ayah Mendukung Bayi yang Lebih Sehat? Studi Menunjukkan Asam Folat Mungkin Penting


Saat mempersiapkan kehamilan, perhatian sering berpusat pada calon ibu—menghindari alkohol dan merokok, makan dengan gizi seimbang, serta tetap aktif adalah anjuran yang umum. Namun, apa yang sebaiknya dilakukan calon ayah, dan peran apa yang dapat mereka jalankan sebelum pembuahan?


Studi bersama oleh University of California, Berkeley dan Western Human Nutrition Research Center milik U.S. Department of Agriculture menunjukkan bahwa kadar folat rendah pada pria mungkin berkaitan dengan jumlah dan konsentrasi sperma yang lebih rendah.


Studi ini diterbitkan dalam edisi Februari Fertility and Sterility. Peneliti mengukur konsentrasi folat dalam darah dan semen dari 48 pria berusia 20 hingga 50 dan menemukan bahwa kadar folat nonmetil yang lebih rendah berkaitan dengan kualitas sperma yang lebih buruk.


Aset Petal_Latar belakang gelembung molekuler hijau medis_193858958.jpg


Pria Juga Membutuhkan Asam Folat

Suplementasi asam folat sebelum dan selama awal kehamilan diketahui dapat secara signifikan mengurangi risiko cacat tabung saraf janin seperti spina bifida. Asupan harian yang dianjurkan adalah 400 mikrogram dari sumber termasuk sayuran hijau tua, jus jeruk, kacang-kacangan, serealia yang diperkaya, atau multivitamin.


Apakah pria sebaiknya mengikuti standar asupan asam folat yang sama?


Penulis utama sekaligus ahli gizi Dr. Lynn Wallock berkata, “Folat berperan penting dalam sintesis DNA. Folat nonmetil khususnya diperlukan untuk menyintesis timin, salah satu dari empat basa DNA.” Ia juga mengutip studi 1997 yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences yang menunjukkan bahwa kekurangan folat dapat menyebabkan patahnya kromosom dan dengan demikian memengaruhi kesuburan.


Faktor Lain Juga Memengaruhi Kualitas Sperma

Profesor Marc Goldstein, spesialis infertilitas pria di Cornell University yang mengomentari studi tersebut, menyatakan bahwa meskipun sampelnya kecil, studi ini menegaskan pentingnya folat bagi kesehatan reproduksi pria.


Studi ini juga menemukan kadar folat nonmetil yang secara signifikan lebih rendah pada perokok dibandingkan bukan perokok. Hubungan sebab-akibat langsung antara merokok dan kekurangan folat belum ditetapkan dan memerlukan penelitian lebih lanjut.


Seng juga penting bagi produksi sperma. Sebuah tinjauan 2000 dalam jurnal yang sama mengaitkan kekurangan seng dengan jumlah sperma yang lebih rendah. Seng dan folat berinteraksi erat, dan kadar seng rendah dapat mengganggu penyerapan serta metabolisme folat.


Alkohol merupakan faktor penting lainnya. Profesor Rebecca Sokol dari Keck School of Medicine of USC menyatakan, “Orang dengan ketergantungan alkohol sering memiliki kadar seng rendah, yang secara tidak langsung mengurangi efektivitas folat.”


Mulailah dengan Perubahan Pola Makan

Meskipun belum ada bukti konklusif bahwa suplementasi asam folat secara langsung meningkatkan jumlah sperma atau angka kehamilan, Wallock menyarankan pria mengonsumsi 5–9 porsi buah dan sayuran setiap hari, yang umumnya menyediakan folat yang cukup. Multivitamin adalah pilihan lain ketika asupan makanan tidak memadai.


Profesor Goldstein berkata, “Mulailah dengan mengubah pola makan sebelum mempertimbangkan pembedahan.” Di antara pasangan dengan infertilitas, sekitar 1/3 kasus melibatkan faktor pria, 1/3 melibatkan faktor wanita, dan 1/3 melibatkan kedua pasangan. Oleh karena itu, perhatian pada kesehatan gizi pria merupakan bagian penting dalam meningkatkan peluang pembuahan.


Ia juga mencatat bahwa studi tersebut dibatasi oleh sampel kecil dan pola makan peserta yang umumnya buruk, dengan kurang dari 3.5 porsi buah dan sayuran setiap hari. “Ini saja menunjukkan bahwa kelompok ini kemungkinan sudah menerima folat yang tidak memadai.”


Penelitian Kesuburan Pria Masih Terabaikan

Dr. Philip Werthman, direktur Center for Male Reproductive Medicine di Los Angeles, mengatakan, “Penelitian kesehatan reproduksi pria masih sangat terabaikan. Penelitian infertilitas didominasi oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi, yang jarang menangani pria secara langsung.”


Dr. Wallock menambahkan, “Penelitian kami hanya mengungkap puncak gunung es. Studi mendatang seharusnya melihat lebih dari sekadar folat dan menyelidiki hubungan antara lebih banyak zat gizi dan kesuburan pria.”


Bagi calon ayah, pilihan yang lebih sehat dapat dimulai dari makanan sehari-hari.


Sumber berita:

Dihimpun dari internet

Diterbitkan 2025-06-30
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh tim editorial sebelum diterbitkan.
Konten ini hanya untuk informasi dan bukan nasihat medis. Konsultasikan dengan tenaga medis berizin. Panduan konten dan kebijakan editorial

Anda Mungkin Juga Menyukai

Kami Akan Segera Menghubungi Anda

Masukkan data Anda dan kami akan segera menghubungi Anda.
  • Tes Genetik Prapenempelan dan IVF
    IVF dengan Sel Telur atau Sperma Donor
    Informasi Reproduksi Pihak Ketiga (Tunduk pada Hukum Setempat)
    Lainnya