Pengetahuan | Perawatan Kesuburan melalui Konsepsi Alami
Seperti lima juta warga Amerika lainnya, Candace dan Alan Saylor (bukan nama sebenarnya) sangat menginginkan anak tetapi belum berhasil hamil. Setelah berkonsultasi dengan dokter, mereka disarankan untuk sering berhubungan seksual pada masa paling subur Candace.
Meskipun terdengar ideal, hal ini dapat membuat pasangan yang mengalami infertilitas merasa tertekan. “Saya tidak ingin menjadi perempuan yang mengetuk jam tangannya dan berkata, ‘Sekarang,’ jadi saya mencoba cara kreatif untuk menggodanya,” kata Candace. Mereka lebih berfokus pada pemanasan agar tidak melihat satu sama lain hanya sebagai “penghasil sel telur” dan “penyedia sperma”. “Saya mencoba melihat suami saya sebagai pria yang seksi, bukan hanya orang yang belum membuat saya hamil,” katanya. Sebelum berhubungan seksual, ia kadang berfokus pada bagian tubuh suaminya yang menurutnya sangat menarik untuk membantu membangkitkan gairahnya.
Pendekatan itu jelas berhasil: putri mereka, Caitlin, kini berusia tiga tahun.
1
Tantangan Hubungan Seks Terjadwal
Banyak pasangan yang masih berusaha hamil mengatakan bahwa seks dapat menjadi membosankan ketika harus dijadwalkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium berulang atau waktu yang paling mungkin memaksimalkan keberhasilan. Seks spontan digantikan oleh hubungan seksual yang terjadwal.
Tekanan lain mungkin mencakup hilangnya harga diri, seperti merasa gagal karena kehamilan belum terjadi, serta beban finansial perawatan kesuburan. Beberapa strategi dapat mengurangi dampak negatif tersebut.
2
Respons yang Berbeda antar Pasangan
Para ahli mengatakan pasangan perlu memahami bahwa respons mereka mungkin berbeda. “Dalam situasi ini, seorang perempuan mungkin merasa terputus dari tubuhnya dan sulit merasakan gairah seksual,” kata Dr. Andrea Braverman, direktur layanan psikologis di Women’s Institute for Fertility, Endocrinology and Menopause di Philadelphia. Ia mungkin merasa hanya dipandang sebagai indung telurnya dan bertanya, “Jika saya tidak bisa hamil, apa gunanya seks?”
Gairah yang rendah dapat mengurangi pelumasan alami dan membuat seks terasa nyeri, sehingga hubungan seksual menjadi semakin jarang, kata Dr. Braverman.
“Seorang pria mungkin merasa hanya sebagai donor sperma dan menjadi begitu terasing hingga sulit ereksi atau mencapai orgasme,” kata Dr. Anthony Thomas, ahli urologi di Cleveland Clinic Foundation, Ohio. Sebagian pria bahkan mungkin berpura-pura mencapai klimaks untuk mengakhiri hubungan seksual, tambahnya.
3
Mengurangi Tekanan
Kedua pasangan sebaiknya menghindari beralih ke mode “performa”. Perlu disadari bahwa masa subur lebih panjang daripada yang sering digambarkan film dan televisi, ketika tokohnya terburu-buru berhubungan seksual saat jeda makan siang. Dr. Thomas mencatat bahwa sperma dapat bertahan dalam lendir serviks sekitar lima hari.
Pasangan yang mengalami infertilitas sering dianjurkan berhubungan seksual setiap dua hari sekali di sekitar ovulasi, biasanya mendekati hari ke-14 dalam siklus menstruasi. Ovulasi dapat dideteksi dengan tes urine atau dengan memantau perubahan cairan vagina.
Seks tidak seharusnya dibatasi pada masa ovulasi. Kecuali dokter menyarankan sebaliknya, pasangan sebaiknya berhubungan seksual sepanjang bulan, bukan hanya ketika mereka yakin pembuahan mungkin terjadi. Psikolog klinis Dr. Leslie Schover mengatakan hal ini dapat memisahkan seks dari pembuahan dan menjadikannya bagian alami dari kehidupan kembali.
4
Nikmati Seks, Bukan Hanya Reproduksi
Penting untuk memandang seks sebagai kesenangan, bukan tugas. “Kami mencoba bersenang-senang—berhubungan seksual di ruangan berbeda, pergi ke hotel, dan berkencan sebelumnya,” kenang Alan.
“Ciptakan suasana romantis dengan kegiatan seperti mandi bersama dan pijat,” saran Dr. Schover. Ini juga dapat menjadi waktu yang baik untuk mengeksplorasi fantasi seksual dan minat erotis.
5
Cari Dukungan
Konselor profesional dan kelompok dukungan infertilitas seperti Resolve sering kali dapat membantu. Pasangan mungkin menemukan saran praktis, tempat untuk berbagi perasaan, serta keyakinan bahwa mereka tidak sendiri. Percakapan informal dengan pasangan yang telah mengatasi infertilitas juga dapat membantu. Saat mengenangnya, Candace mengatakan bahwa tetap positif dan menantikan kehadiran anggota keluarga baru paling membantunya.
Sumber artikel
Dikumpulkan dari internet
Penulis LinkedIVF TeamDiterbitkan 2024-06-07
Artikel ini menggunakan bantuan AI; LinkedIVF belum mencatat tinjauan editorial untuk artikel ini. Ini bukan nasihat medis.
Pengetahuan | Perawatan Kesuburan Melalui Konsepsi Alami
Pengetahuan | Perawatan Kesuburan melalui Konsepsi Alami
Seperti lima juta warga Amerika lainnya, Candace dan Alan Saylor (bukan nama sebenarnya) sangat menginginkan anak tetapi belum berhasil hamil. Setelah berkonsultasi dengan dokter, mereka disarankan untuk sering berhubungan seksual pada masa paling subur Candace.
Meskipun terdengar ideal, hal ini dapat membuat pasangan yang mengalami infertilitas merasa tertekan. “Saya tidak ingin menjadi perempuan yang mengetuk jam tangannya dan berkata, ‘Sekarang,’ jadi saya mencoba cara kreatif untuk menggodanya,” kata Candace. Mereka lebih berfokus pada pemanasan agar tidak melihat satu sama lain hanya sebagai “penghasil sel telur” dan “penyedia sperma”. “Saya mencoba melihat suami saya sebagai pria yang seksi, bukan hanya orang yang belum membuat saya hamil,” katanya. Sebelum berhubungan seksual, ia kadang berfokus pada bagian tubuh suaminya yang menurutnya sangat menarik untuk membantu membangkitkan gairahnya.
Pendekatan itu jelas berhasil: putri mereka, Caitlin, kini berusia tiga tahun.
1
Tantangan Hubungan Seks Terjadwal
Banyak pasangan yang masih berusaha hamil mengatakan bahwa seks dapat menjadi membosankan ketika harus dijadwalkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium berulang atau waktu yang paling mungkin memaksimalkan keberhasilan. Seks spontan digantikan oleh hubungan seksual yang terjadwal.
Tekanan lain mungkin mencakup hilangnya harga diri, seperti merasa gagal karena kehamilan belum terjadi, serta beban finansial perawatan kesuburan. Beberapa strategi dapat mengurangi dampak negatif tersebut.
2
Respons yang Berbeda antar Pasangan
Para ahli mengatakan pasangan perlu memahami bahwa respons mereka mungkin berbeda. “Dalam situasi ini, seorang perempuan mungkin merasa terputus dari tubuhnya dan sulit merasakan gairah seksual,” kata Dr. Andrea Braverman, direktur layanan psikologis di Women’s Institute for Fertility, Endocrinology and Menopause di Philadelphia. Ia mungkin merasa hanya dipandang sebagai indung telurnya dan bertanya, “Jika saya tidak bisa hamil, apa gunanya seks?”
Gairah yang rendah dapat mengurangi pelumasan alami dan membuat seks terasa nyeri, sehingga hubungan seksual menjadi semakin jarang, kata Dr. Braverman.
“Seorang pria mungkin merasa hanya sebagai donor sperma dan menjadi begitu terasing hingga sulit ereksi atau mencapai orgasme,” kata Dr. Anthony Thomas, ahli urologi di Cleveland Clinic Foundation, Ohio. Sebagian pria bahkan mungkin berpura-pura mencapai klimaks untuk mengakhiri hubungan seksual, tambahnya.
3
Mengurangi Tekanan
Kedua pasangan sebaiknya menghindari beralih ke mode “performa”. Perlu disadari bahwa masa subur lebih panjang daripada yang sering digambarkan film dan televisi, ketika tokohnya terburu-buru berhubungan seksual saat jeda makan siang. Dr. Thomas mencatat bahwa sperma dapat bertahan dalam lendir serviks sekitar lima hari.
Pasangan yang mengalami infertilitas sering dianjurkan berhubungan seksual setiap dua hari sekali di sekitar ovulasi, biasanya mendekati hari ke-14 dalam siklus menstruasi. Ovulasi dapat dideteksi dengan tes urine atau dengan memantau perubahan cairan vagina.
Seks tidak seharusnya dibatasi pada masa ovulasi. Kecuali dokter menyarankan sebaliknya, pasangan sebaiknya berhubungan seksual sepanjang bulan, bukan hanya ketika mereka yakin pembuahan mungkin terjadi. Psikolog klinis Dr. Leslie Schover mengatakan hal ini dapat memisahkan seks dari pembuahan dan menjadikannya bagian alami dari kehidupan kembali.
4
Nikmati Seks, Bukan Hanya Reproduksi
Penting untuk memandang seks sebagai kesenangan, bukan tugas. “Kami mencoba bersenang-senang—berhubungan seksual di ruangan berbeda, pergi ke hotel, dan berkencan sebelumnya,” kenang Alan.
“Ciptakan suasana romantis dengan kegiatan seperti mandi bersama dan pijat,” saran Dr. Schover. Ini juga dapat menjadi waktu yang baik untuk mengeksplorasi fantasi seksual dan minat erotis.
5
Cari Dukungan
Konselor profesional dan kelompok dukungan infertilitas seperti Resolve sering kali dapat membantu. Pasangan mungkin menemukan saran praktis, tempat untuk berbagi perasaan, serta keyakinan bahwa mereka tidak sendiri. Percakapan informal dengan pasangan yang telah mengatasi infertilitas juga dapat membantu. Saat mengenangnya, Candace mengatakan bahwa tetap positif dan menantikan kehadiran anggota keluarga baru paling membantunya.
Sumber artikel
Dikumpulkan dari internet